“…”
“kenapa kau diam saja?”
“aku bingung”
“kenapa kau malah bingung? dia sudah menjelaskan semuanya dengan jelas kan?”
“iya, tapi aku tetap bingung”
“apa yang membuatmu bingung?”
“aku tak habis pikir kenapa dia mau melakukan ini semua untuk mereka yang jelas2 tak ada hubungannya dengan semua ini, mereka itu tak berdosa. sepertinya aku tidak bingung, aku takut”
“ayolah, semuanya akan baik2 saja. dia tau apa yg dia lakukan. ini, makanlah dulu, kau belum makan dari semalam kan?”
“aku tidak mau, roti itu sudah berjamur, aku bisa mati keracunan nanti. lebih baik aku mati tertembak daripada mati keracunan”
“ya terserah kau sajalah, walaupun aku mati setidaknya aku akan mati dengan perut kenyang”
“hey kau tau apa yang aku pikirkan? mungkin ini terdengar gila, tapi kenapa kita tidak mencoba kabur saja dari sini?”
“hahahahah! kau ini bodoh betul. kau akan kabur kemana? dia akan selalu menemukanmu, bahkan sesungguhnya kau tidak akan pernah bisa kabur darinya. ah kau sudah gila sepertinya”
“dia jauh lebih gila dariku! aku sudah muak begini terus. dia pikir dia siapa sampai membuat aku harus memakan roti berjamur selama berhari-hari? hah aku benar2 muak!”
“hey hey jaga omonganmu bodoh! kalau dia dengar dia bisa saja akan melakukan hal yang buruk pada kita!”
“aku tidak peduli lagi! ah aku akan pergi. sekarang juga”
“eits tunggu dulu! lalu aku bagaimana?”
“ya terserah, kau mau ikut aku atau tinggal disini dan mungkin akan mati keracunan besok pagi”
“…”
“hey kenapa kau malah diam?”
“aku takut…”